Dukaku untukmu, Gus

Saya memang tidak terdaftar dalam anggota NU. Kalau Anda tidak percaya, monggoh dicek dompet saya. Pasti tidak akan ditemukan kartu anggota NU. Seringkali, saya juga tidak sependapat dengan ide pluralisme yang sering dikumandangkan Gus Dur. Dan juga bisa dibuktikan bahwa saya juga termasuk yang tidak setuju dengan Dekrit ala Gus Dur sebelum diberhentikan lewat Sidang Istimewa MPR. Namun, itu semua tidak lantas membuat saya membenci Gus Dur. Karena dalam naluri alamiah saya, saya memahami bahwa Gus Dur tetaplah sosok manusia. Beliau punya kelebihan, pun ada kekurangan. Seperti halnya saya maupun Anda. Beliau juga punya rekam jejak yang baik, yang bisa diteladani. Dan oleh karena itulah, ketika Allah sudah kangen bertemu dengannya, saya turut dalam barisan kedukaan. Seorang kyai. Tokoh Nahdlatul Ulama. Mantan Presiden. Mudah-mudahan Allah menerima amal ibadahnya dan mengampuni segala dosanya.

Penghormatan terbaik adalah dengan doa dan pemaafan (pernyataan KH Hasyim Muzadi tentang Gus Dur)

Rehat ke Madinah

Setelah ujian yang memeras tenaga, waktu, dan otak yang kami punya (lho, emang punya otak?? hahaha…), beberapa orang dari temen-temen indonesia yang ada di KAUST sepakat mau jalan-jalan ke Madinah. Kenapa dipilih madinah? Karena Madinah tempatnya eksentrik, pas buat refreshing sekaligus bisa ibadah. Kan ada masjid nabawi di sana. Selain itu, juga ada misi pribadi. Mau ketemu ibu yang sedang ada di Madinah, setelah sebelumnya gak sempat ketemu di Jeddah. Maka, disusunlah rencana keberangkatan. Alhamdulillah kita bisa nyewa mobil kampus, 600 riyal. Murah banget. Soalnya tuh mobil bisa muat 10 orang. Kalo bayar pake taksi ato bis dari kampus ke Madinah, bisa abis 150-an riyal per anak (kata temen yang udah ke sana).

Continue reading

Dari Seminar Ekonomi Syariah di Jeddah

Udah hampir seminggu sih acaranya. Jadi ceritanya waktu itu, kami dari rombongan mahasiswa Indonesia di KAUST diundang di acara seminar ekonomi syariah yang diadain ama Konsulat Jenderal (Konjen) Indonesia di Jeddah. Bayangin, mereka sampe nyempetin dateng ke kampus kami yang jaraknya kurang lebih 1,5 jam dari Jeddah, cuma buat nyampein undangan resmi secara tertulis!! Diliat eh diliat, ternyata pembicaranya mantab banget. Nih dia:
1. Muhammad Arifin bin Baderi (dosen Universitas Madinah)
2. Muktisjah Ramli Suryo (Bank Al Jazeera)
3. Satria Agung Purwanto, MBA (National Commercial Bank)
4. Prof. Dr. Bambang PS Brodjonegoro (mantan dekan FEUI, peneliti IDB)

Alhamdulillah, meskipun kami lagi dilanda badai ujian akhir, masih bisa mengirimkan 6 orang perwakilan, termasuk saya di dalamnya. Manteb banget acaranya. Alhamdulillah, sempet kasih 1 pertanyaan ke masing-masing pembicara. Dan yang lebih makjreng lagi, dapet makanan ala indonesia yang maknyus dan gratis!! 🙂 Kami juga dapet kenalan-kenalan baru, kayak temen-temen dari Riyadh dan Madinah, sama keluarga besar Konjen Jeddah.

Dapet ilmu. Dapet makan. Dapet kenalan. ^_^

Jujur Itu Susah (Banget)

Ah, ternyata memang sulit jadi orang jujur. Karena ketika kesempatan untuk tidak jujur itu datang, maka godaan untuk melakukannya, begitu besar. Maka, salutlah saya, untuk orang-orang yang di sekitarnya banyak ketidakjujuran, tetapi tetap tegar dengan kejujurannya. Untuk tidak korupsi, misalnya. Dan orang-orang ini, jauh lebih saya hormati daripada mereka yang jujur, tapi berada di luar sistem. Karena memang jelas, mereka ini belum teruji tetap konsisten dengan kejujurannya ketika ada kesempatan untuk berdusta, berkorupsi, dan lainnya.

Musim Ujian

Mulai pekan kemarin hingga pekan depan, di kampus lagi rame-ramenya ujian. Semua anak pada konsen belajar. Ada yang di kamar lah. Ada yang di perpus lah. Ada yang sendirian. Ada juga yang berkelompok, biar bisa diskusi. Mudah-mudahan Allah meridhoi perjuangan kita di ujian akhir semester ini. Aamiin… 🙂

Sebuah Pelajaran Berharga

Kemaren belajar tentang satu hal yang sangat penting dari beberapa orang dan juga peristiwa. Belajar bersabar. Tentang segala hal yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Saat kita dihadapkan pada situasi terburuk. Saat segala sesuatu di depan nampak begitu gelap. Dan, benarlah kata Rasul. Bahwa sabar itu ada pada hantaman pertama. Karena memang begitu berat untuk bersabar pada kondisi itu. Saat emosi lebih dominan dari nurani. Dan beruntunglah mereka yang bisa melakukannya, yang mampu bersabar dan beristiqomah dengan kesabarannya.

Syukur ibarat aspek ekspansif dalam garis kehidupan dan sabar adalah aspek defensifnya (salah satu tulisanku)

Idul Adha di Sini

Bismillahirramanirrahim…

Di tengah kesibukan ngerjain beraneka tugas, saya sempetin nulis cerita pengalaman Idul Adha di sini. Sekalian buat peregangan tangan yang udah lama gak produktif nulis :). Alhamdulillah, kayaknya gak ada henti-hentinya saya bersyukur bahwa Allah ngasih kesempatan buat berada di Saudi ini. Diawali dengan diterimanya saya berjuang di kampus sini. Kemudian dikasih kesempatan buat umroh di ramadhan yang lalu. Dan akhirnya, kesempatan beribadah haji di tahun ini. Alhamdulillah wa syukurillah… Dan itu semua juga berkat bantuan temen-temen kampus dari Saudi yang bekerja keras memfasilitasi kita buat ibadah haji. Thanks guys!! 🙂

Continue reading