Menipu Diri

Kalau Anda tak punya duit banyak, kemudian hidup sederhana, biasa saja, itu memang sudah sewajarnya. Begitu pula ketika Anda punya uang yang, tak perlulah melimpah, lebih dari yang biasanya saja, kemudian Anda menampilkan kelebihan itu, bisa lewat pakaian, dandanan, jenis makanan, kendaraan, atau lainnya, memang itu ya manusiawi.

Golongan orang yang jarang betul saya temui adalah orang yang secara harta, ia melimpah, lebih dari cukup, tapi penampilannya sangat sederhana. Bahkan kita akan menyangka, dia tidak lebih kaya dari kita. Tipe orang seperti ini luar biasa dalam perspektif saya.

Naluri manusia, cenderung untuk menampilkan segala kelebihan yang dimiliki. Dan menahan untuk menunjukkan bahwa, eh saya ini orang kaya lho, artinya orang seperti ini berhasil mengendalikan nafsu tampil-nya. Sulit betul. Godaannya luar biasa beratnya.

Di negeri ini, saya justru lebih sering melihat yang sebaliknya. Ketika orang-orang yang sebetulnya tak mampu, harus berjuang ekstra keras untuk menunjukkan kepada orang di lingkungannya, bahwa dia ini mampu lho. Metodenya ya bermacam-macam. Dari berhutang, menindas, korupsi, memeras. Tujuannya cuma satu. Demi gengsi. Padahal, dia sedang menipu dirinya sendiri.

Posted from WordPress for Android

Ngebolang di Bandung

Kali ini, untuk kesekian kalinya saya melakukan perjalanan ke Bandung. Yang berbeda sekarang, saya berniat backpacker kecil-kecilan. Jakarta-Bandung tentu bukan jarak yang jauh. Tapi, bagi pemula yang jarang jalan-jalan seperti saya, ini penting untuk melatih kenekatan 🙂

Perjalanan ini tidak saya saya tempuh sendiri, tetapi berdua dengan seorang teman, sebut saja namanya Indra. Awalnya kami berencana untuk berangkat Sabtu sore karena saya masih ada tugas kantor hingga Sabtu siang. Tapi, ternyata acaratersebut bisa selesai pada hari Jumat jam 12 malam. Jadi, kami mengubah rencana keberangkatan menjadi Sabtu pagi.

Continue reading

Universitas Tukang Becak

sebuah refleksi, saya temukan dari sini. selamat menikmati

Sedulur-sedulur. Pernah merasa atau tidak mahasiswa yang kuliah itu akhirnya untuk apa? Untuk mencari kerja kan? Untuk bekerja kan? Mula-mula mereka akan jadi manusia bekerja, kemudian akan jadi manusia pekerja, kemudian manusianya hilang dan hanya jadi “pekerja”. Ini kemudian menghilangkan beberapa fitrah kemanusiaan, contoh: “lebih suka membaca buku daripada membaca kenyataan hidup. Salah satu akibatnya adalah lebih menggembor-gemborkan mengenai kerja dan karir daripada membuka lapangan kerja. Karir lebih utama dari membuka hajat hidup orang banyak. Anda kerja di BUMN lebih mulia daripada rumah kecil home industry (nang Tegal contone) sing menghidupi puluhan wong-wong cilik. Bukankah ini logika yang terbalik?

Continue reading

Ketika Kehilangan

Ada sebuah kabel rol di kosan saya. Tak tahu apa sebabnya, tiba-tiba kabel rol itu mati. Padahal, relatif masih baru saya beli. Mati yang mendadak ini membuat saya kalang kabut. Di kabel rol inilah saya biasa menge-charge handphone dan laptop secara bersamaan. Akibatnya, selama beberapa hari, karena tidak sempat membeli kabel rol lagi, saya kerepotan.

Pentingnya sesuatu itu ternyata ketika kita kehilangannya. Ketika ada, ya sudah kita anggap biasa saja keberadaannya. Memang harusnya di situ, pikir kita. Misalnya, pernahkah kita merasa sungguh-sungguh bahwa Ibu dan Bapak adalah sesuatu yang penting? Mungkin tidak.

Continue reading

Bukan Hanya Hasil

Sejak masih SD, saya sudah jatuh cinta dengan PSIS Semarang. Waktu itu PSIS masih satu-satunya tim dari Jawa Tengah yang berlaga di kompetisi tertinggi sepakbola Indonesia. Kecintaan saya kepada PSIS ini sudah muncul sebelum PSIS jadi juara liga Indonesia. Dan perasaan cinta itu terus berlanjut saat ini, termasuk ketika PSIS degradasi tepat setahun setelah menjadi kampiun liga Indonesia.

PSIS tentu kalah tenar dibandingkan dengan Persija, Arema, Persib, Persipura atau klub-klub besar Indonesia lainnya. Juga jelas kalah kelas permainannya dibandingkan Barcelona, MU, Munchen, AC Milan, dan sebagainya. Tapi, PSIS punya tempat tersendiri di hati saya.

Continue reading

Prestasi Hidup

Suatu ketika, salah seorang teman membantah pendapat saya. Katanya, prestasi seorang mahasiswa tak harus lewat gelar juara atau penghargaan, seperti seleksi Mahasiswa Berprestasi, PKM, ataupun kompetisi yang lainnya. Yang paling penting, katanya, dia bisa jadi seorang mahasiswa yang konsisten dengan target yang telah ditetapkannya. Apapun bentuknya. Maka sebetulnya, kata teman saya ini, orang seperti ini sudah layak disebut berprestasi.

Hingga pada lain waktu, saya mengetahui bahwa dia telah menjadi salah satu pemenang di kompetisi yang skalanya tak besar. Ia bangga bukan main. Berulang kali dia ceritakan tentang kemenangannya itu. Hadiahnya tak cukup besar, tapi dia senang karena dia populer. Orang-orang telah mengenalnya karena prestasinya itu. Bahkan, akhirnya saya tahu bahwa dia sekarang malah getol ikut kompetisi yang lainnya.

Continue reading

Kerupuk Gado-Gado

Bahkan saya tidak tahu namanya. Seorang pedagang gado-gado di dekat kosan saya. Umurnya setengah baya. Keberadaannya belum menjadi perhatian yang menarik bagi saya. Hingga pada suatu waktu, ketika saya sedang menikmati gado-gadonya saya tersipu malu.

Kerupuk yang ada di piring saya sudah habis saat itu. Saya pikir, oh ya sudah. Sudah habis kerupuknya. Selesai. Tapi, tiba-tiba beliau menawarkan kepada saya kerupuk tambahan. “Silakan Mas, ditambah kerupuknya”. Saya terkejut. Dalam hati bergumam, kalau menawarkan sekali seperti ini sih biasa. Namun, saya kembali terkejut ketika jatah kerupuk inipun habis, dia datang kembali. Menawarkan kerupuk tambahan lagi.

Continue reading