Memberi yang Terbaik

Jika Anda sekarang atau nanti menjadi orangtua, apa yang ingin Anda berikan kepada anak? Jawabannya pasti sama. Akan memberikan yang terbaik. Apa itu yang terbaik?

Orang tua saat ini sudah membekali anak balitanya dengan gadget terbaru. Supaya tidak ketinggalan zaman, katanya. Dulu saya hanya bisa iri melihat tetangga saya punya video game terbaru, sekarang saya tidak ingin anak saya menderita seperti saya, kata yang lain lagi. Maka, anak-anak itu asyik dengan gadget-nya. Di manapun dia berada. Kalau sang anak mulai rewel atau ngambek, cukup berikan gadget dan dia akan segera diam.

Anak-anak diberikan fasilitas terbaik yang orang tuanya miliki dan sanggup beli. Untuk apa kerja keras tiap hari kalau hasilnya tidak diberikan kepada anak, begitu pembenarannya. Kalau anak hendak pergi ke suatu tempat, orang tua sudah menyiapkan mobil. Untuk kenyamanan dan keamanan, katanya. Sekolah anak pun harus dipilihkan yang terbaik, yaitu yang paling mahal, yang gurunya punya background kampus bonafid, apalagi dari luar negeri.

Saya dididik dengan banyak ketidakmudahan fasilitas dari orang tua. Kami anak-anaknya dibiasakan naik sepeda sejak kelas 5 SD. Tidak dibolehkan membeli nintendo atau games semacamnya. Bahkan dari uang tabungan kami sendiri. Kami baru bisa membeli komputer saat kelas 2 SMA, sebagian besar dari iuran tabungan saya dan adik. Kami diberikan uang saku per bulan sejak SMP, dan tidak ada tambahan lagi jika uang sakunya habis. Saya harus mengirit uang jajan untuk bisa membeli buku pelajaran atau koran Bola. Bapak juga membiarkan kami mendaftar SMP dan SMA sendiri tanpa diantar dan ditemani, juga saat kami mengikuti bimbingan belajar di Depok untuk SNMPTN.

Apa orang tua kami tidak punya uang lebih untuk anak-anaknya? Saya yakin mereka berdua memiliki, meskipun tidak banyak. Apa orang tua kami tidak sayang sehingga sering membiarkan anak-anaknya mengurus sesuatunya sendiri? Saya yakin mereka sangat menyayangi kami. Dan cara itulah yang mereka lakukan untuk mendidik dan menyayangi kami berdua. Tidak dengan memberikan banyak mainan dan kemudahan. Tapi dengan membuat kami prihatin, mandiri dan mau bekerja keras.

Tidak ada jaminan apa yang dilakukan oleh orang tua kami adalah hal yang paling benar, dan orang tua lain yang memfasilitasi anaknya adalah keliru. Saya sedang mengingatkan diri saya sendiri, bahwa tidak ada jaminan bahwa memberi yang terbaik kepada anak kita adalah dengan memudahkan hidupnya dengan aneka fasilitas. Mungkin, dengan ‘menyusahkannya’ dengan berjuang, akan lebih baik untuk masa depannya kelak.

*sudah sembilan bulan usiamu hari ini nak. semoga ayah dan bundamu bisa menjadi orang tua yang sholeh sehingga bisa mendidikmu menjadi anak yang sholehah. aamiin…*

Kelirumologi Nama Istri

Mau membagi beberapa hal yang kemarin saya tweet di @akhdaafif tentang apa yang saya pahami hukumnya menambahkan nama suami di belakang nama asli istri. Semoga bermanfaat bagi saya dan rekan-rekan

1. buat perempuan, islam melarang menggunakan nama suami ditambahkan di namanya lho. yang boleh cuma nama ayah. ada yang baru tahu? 😀

2. hukumnya memang dilarang untuk menyertakan nama suami di belakang istri. salah satu bahasannya: http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/pemakaian-nama-selaian-nama-ayah.htm

3. setelah menikah, saya tidak pernah meminta istri untuk menambahkan nama saya di belakang namanya. jadi tetap: Syifa Kifahi

4. dalam masyarakat kita, memang nama panggilan istri biasa dinisbatkan ke suaminya. misal, istri saya nanti dipanggil Bu Afif

5. ya kalau adatnya begitu, kita tetap mengenalkan nama panggilan istri, dan minta dipanggil nama istri. semampu kita berusaha aja

6. kecuali di tempat yang kita punya wewenang penuh.misalnya: akun socmed.minta istri memakai nama aslinya saja,tanpa embel-embel nama kita

7. salah satu hikmah yang bisa saya dapat dari aturan itu adalah karena tidak ada namanya mantan anak. kalo mantan suami, kan ada tuh

8. dalam islam, nasab punya peran penting. misal, untuk penentuan waris. juga untuk pernikahan, sebagai wali atau yang haram dinikahi

9. sepele sih. tapi saya lihat sering diabaikan. khususnya teman-teman sebaya yang beberapa kali saya temui, dan juga dalam candaan