Seteguk Air

As Sammak, seorang ‘Alim sahabat Harun Ar Rasyid mengunjungi Sang Khalifah. Saat Harun merasa haus, dimintanyalah minuman kepada pelayan. Segelas air dingin pun dihidangkan.

Ketika dia mengangkat gelasnya untuk minum, As Sammak menahan tangannya. “Tunggu sebentar ya Amiral Mukminin”, ujarnya. “Jika seseorang atau satu hal menghalangimu dari meminum air ini di saat puncak kehausanmu dengan meminta tebusan darimu, berapa kau akan membayarnya?” “Separuh kerajaanku.” Berapa besarkah itu? Kerajaan Harun Ar Rasyid membentang dari perbatasan Gurun Gobi hingga Gurun Sahara, dari Lembah Sungai Indus hingga hulu Sungai Nil, dari Laut Hitam hingga Laut Arab. “Minumlah”, ujar As Sammak, “Semoga Allah memberkahimu.” Harun pun meneguk isi gelasnya dengan nikmat.

“Lalu jika air yang sudah kauminum ternyata tertahan dalam tubuh dan sama sekali tak dapat keluar, berapa kau akan menebusnya?” “Dengan seluruh kerajaanku”, desah Harun. “Jika separuh kerajaanmu bernilai hanya seteguk air, dan seluruh kekuasaanmu hanya senilai setumpahan kencing… Aku takjub pada orang-orang yang ingin memperebutkannya”, pungkas As Sammak.

Mendengarnya, Harun Ar Rasyid menangis tersedu-sedu.

dikutip dari tulisan ustadz Salim A Fillah

Nggak Ngrecokin

Yang saya pahami, negeri ini dibangun dari darah dan nyawa. Mayoritasnya disumbangkan dari umat Islam. Yang menggerakkan mereka adalah fatwa, dawuh, perintah dari para kyai, ulama, orang-orang shaleh, lewat resolusi jihad, seruan syahid, pekik takbir yang menggema di setiap pertempuran.

Saya tidak mengesampingkan perjuangan pendiri negeri ini yang nonmuslim. Beliau-beliau pastilah punya andil dengan kontribusinya masing-masing, dengan harta, tenaga, pikiran, juga nyawanya.

Saya hendak menggarisbawahi bahwa pergerakan jutaan syuhada itu melalui para ulamany, bukan ansich berperang menurut maunya sendiri. Maka peran ulama bagi orang-orang awam itu sangat penting. Ulama bilang A, mereka ikut A. Kyai kasih fatwa B, ya harus B.

Kalau antar ulama, kyai ini berbeda pandangan tentang sesuatu, beliau ini akan saling berendah diri, menghormati pendapat lainnya tanpa kata-kata yang menyakitkan untuk menjaga harga diri mereka.

Saya, Anda yang level-level awam, silakan mengikuti ulama yang pas dengan style kita. Kemudian, kita contoh akhlak ulama, kyai, guru kita ini. Menjaga diri dengan tidak ikut ngrecokin pendapat orang yang mengikuti ulama yang berbeda dengan kecenderungan kita.

Simpati Saya

Turut bersimpati atas ditutupnya website ulama kami, ustadz Abdullah Gymnastiar (http://smstauhiid.com), oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Turut mengapresiasi upaya yang dilakukan oleh beliau dan timnya untuk memulihkan websitenya kembali.

Gusti Allah Maha membolak-balikkan hati, semoga selalu memberikan hidayah-Nya kepada kita semua.

tambahan: alhamdulillah 4 November 2016 pukul 17.35, website tersebut sudah dapat terakses kembali