Unknown's avatar

About akhdaafif

a muslim, an Indonesia citizen, a Tegallover

Pilihan Kebaikan

Saya selalu meyakini bahwa selalu ada risiko dalam setiap pilihan yang diambil. Tak hanya berlaku bagi saya, juga bagi Anda, kita semua. Risiko itu meliputi sisi positif dan negatifnya. Kita tahu itu, tapi acapkali abai dengan “yang tidak enaknya”.

Sama seperti ketika beberapa teman yang saya kenal, memilih untuk tetap tinggal di luar negeri, melanjutkan hidup di sana, setelah selesai masa belajarnya. Saya, mungkin juga orang lain, menyadari betul kondisi negeri kami sendiri. Orang-orang cerdas tak tulus dihargai di sini. Negara tak menjamin keberadaan mereka untuk dapat berkarya maksimal, seperti halnya di negara maju.
Continue reading

Doa yang Lama Tak Terkabul

Kembali saya ingin mengulang lagi kultwit #ngaji yang saya sampaikan di akun twitter saya: @akhdaafif. Kali ini tentang doa yang lama tak terkabul.

Cerita ini saya dapatkan dari kuliah ba’da dzuhur di kantor. Kisah yang menarik. Ada seseorang yang rajin berdoa, minta sesuatu sama Allah. Orangnya sholeh. Ibadahnya baik. Tapi doa tak kunjung terkabul.

Sebulan menunggu masih belum terkabul juga. Tetap dia berdoa. Tiga bulan juga belum. Tetap dia berdoa. Hingga hampir satu tahun doa yang ia panjatkan, belum terkabul juga. Dia melihat teman kantornya. Orangnya biasa saja. Tak istimewa. Sholat masih bolong-bolong.
Continue reading

Akibat Dosa

Kali ini saya mau bagi-bagi cerita tentang yang saya dapet dari khotbah jumat kemarin siang. Sebetulnya sudah saya sempat posting di twitter saya @akhdaafif, tapi mungkin ada yang belum punya twitter, jadi saya posting kembali di sini.

Dalam Islam, Allah menjanjikan bahwa kebaikan yang kita lakukan akan dibalas dengan 10 kali lipat atau lebih. Dan setiap kemaksiatan akan dibalas sesuai dengan apa yang kita lakukan, tidak dilipatgandakan. Betapa baiknya Allah yang begitu sayangnya kepada kita dalam membalas apa yang kita lakukan.
Continue reading

Sepeda di Sekolah Saya

Dari SD hingga SMA, transportasi utama yang saya gunakan ke sekolah seringkali sepeda. Pernah pakai sepeda motor, tapi jarang betul. Selain karena tak jauh, pakai sepeda menurut saya jauh lebih sehat. Juga lebih bisa menikmati jalanan. Ruang parkir sepeda pun saat itu penuh. Sering saya tak dapat tempat parkir karena datang terlalu siang, mepet bel masuk.

Sekarang, parkiran sepeda di sekolah seringkali sepi. Apalagi di SMA. Siswanya lebih beralih ke motor. Kata seseorang, “Anak sekolah sekarang malu naik sepeda, Mas. Mending jalan kaki atau naik angkutan kota kalau nggak pakai motor”.
Continue reading

Tanda Tanya

Keanekaragaman itu sesuatu yang tidak bisa dihindari. Karena itulah, antar sesuatu yang berbeda itu, perlu ada upaya toleransi dan saling menghormati. Demikianlah yang ingin Hanung sampaikan dalam film terbaru garapannya, “?” (tanda tanya).

Namun, gagasan yang Hanung sampaikan, dalam istilah orang Jawa, sudah kebablasan. Bukan lagi toleransi yang hendak dimunculkan, melainkan pencampuradukan agama dan pengambilan hukum yang dikhawatirkan semakin tumbuh dan merajalelanya kesesatan berpikir.

Continue reading

Mari Bicara

Semakin ke sini, saya kok merasa prihatin dengan kualitas interaksi kita. Betul bahwa teknologi sudah maju. Tiap orang sudah terhubung. Entah itu lewat telepon, handphone, internet. Semuanya membuat jarak tak jadi kerisauan.

Namun, justru kuantitas interaksi yang melimpah ini, malah menurunkan kualitasnya. Kita jadi asing dengan yang ada di dekat-dekat kita. Yang jauh malah terasa lebih dekat. Yang dekat, keluarga, tetangga kanan kiri, kok ya rasanya malah jauh, jarang kita sapa, sudah abai diajak tertawa bersama.
Continue reading

Persepsi Hati dan Pikiran

Ada kesengsaraan yang justru mendatangkan kebahagiaan. Ada serba kelebihan yang malah mendatangkan kegelisahan. Mungkin terlihat konyol. Namun, dunia ini memang tampil dengan begitu banyak wajah ketidakmungkinan, juga tentang ketidak masuk akalan.

Sengsara tetapi tetap ceria tentu ini luar biasa. Miskin tapi masih semangat berbuat ini itu membuat saya tak henti geleng-geleng kepala. Ada bung Pepeng, yang dengan sakit kronisnya, tetap mampu membuat kita tertawa dan terinspirasi. Ada suster apung, yang dengan gaji dan fasilitas seadanya, tetap mau merawat begitu banyak orang. Hanya berbekal perahu motor seadanya, ia merenda amalnya.

Continue reading

Buang Segera Uangmu !!

Tentu teman-teman berpikir bahwa saya gila dengan menuliskan judul di atas. Tenang dulu. Jangan segera menjustifikasi gila. Ntar saya gila beneran, lho 🙂

Oke, sebelumnya kita satukan pemahaman dulu bahwa uang yang saya maksud di sini, adalah uang yang sudah kita kenal sehari-hari sebagai alat tukar, satuan hitung, dan juga barang dagangan. Mungkin kita jarang tertarik dengan data dan fakta tentang uang yang banyak manusia banggakan itu. Faktanya adalah, uang tersebut terkena inflasi dari tahun ke tahun. Gampangnya, inflasi dapat dianalogikan seperti ember bocor. Ember itu diisi air penuh, airnya akan selalu berkurang. Merembes ke mana-mana. Seperti itulah nilai uang yang kita pakai, gunakan, dan simpan selama ini. Mengapa uang terkena inflasi? Salah satu penyebabnya adalah bahwa nilai intrinsik uang tidak sama dengan nilai ekstrinsiknya. Karena itulah, uang “dengan mudah” dapat dicetak sesuka hati pembuatnya.
Continue reading

Hikmah dari Pedagang

Beliau sama sekali belum pernah mengenal saya sebelumnya. Saya pun demikian. Namun, interaksi singkat dengan beliau, telah memberikan kesan yang mendalam bagi saya. Beliau pedagang kelontong. Sudah lebih dari dua puluh tahun beliau berjualan. Tokonya adalah rumahnya. Rumahnya adalah tokonya. Dari hasil usahanya itu, dua anaknya kuliah di UI, seorang lagi di ITS. Sangat mengesankan bagi keluarga yang tinggal di pedesaan.
Continue reading

Lebih Jauh, Lebih Baru, Lebih Banyak

Suatu ketika Rasulullah hadir dalam pemakaman salah seorang sahabatnya. Di tengah kunjungannya, beliau bertanya kepada istri dari sahabat yang meninggal tersebut. “Adakah wasiat yang ditinggalkan suamimu?”. Sang istri ini menjawab, “Ya Rasul, sebelum meninggal, suamiku mengucapkan kata-kata aneh, yang aku sendiri tidak tahu apa maknanya. Suamiku berkata ‘andai lebih jauh’, ‘andai lebih baru’, ‘andai lebih banyak’ “.

Continue reading