Akibat Dosa

Kali ini saya mau bagi-bagi cerita tentang yang saya dapet dari khotbah jumat kemarin siang. Sebetulnya sudah saya sempat posting di twitter saya @akhdaafif, tapi mungkin ada yang belum punya twitter, jadi saya posting kembali di sini.

Dalam Islam, Allah menjanjikan bahwa kebaikan yang kita lakukan akan dibalas dengan 10 kali lipat atau lebih. Dan setiap kemaksiatan akan dibalas sesuai dengan apa yang kita lakukan, tidak dilipatgandakan. Betapa baiknya Allah yang begitu sayangnya kepada kita dalam membalas apa yang kita lakukan.
Continue reading

Sepeda di Sekolah Saya

Dari SD hingga SMA, transportasi utama yang saya gunakan ke sekolah seringkali sepeda. Pernah pakai sepeda motor, tapi jarang betul. Selain karena tak jauh, pakai sepeda menurut saya jauh lebih sehat. Juga lebih bisa menikmati jalanan. Ruang parkir sepeda pun saat itu penuh. Sering saya tak dapat tempat parkir karena datang terlalu siang, mepet bel masuk.

Sekarang, parkiran sepeda di sekolah seringkali sepi. Apalagi di SMA. Siswanya lebih beralih ke motor. Kata seseorang, “Anak sekolah sekarang malu naik sepeda, Mas. Mending jalan kaki atau naik angkutan kota kalau nggak pakai motor”.
Continue reading

Mari Bicara

Semakin ke sini, saya kok merasa prihatin dengan kualitas interaksi kita. Betul bahwa teknologi sudah maju. Tiap orang sudah terhubung. Entah itu lewat telepon, handphone, internet. Semuanya membuat jarak tak jadi kerisauan.

Namun, justru kuantitas interaksi yang melimpah ini, malah menurunkan kualitasnya. Kita jadi asing dengan yang ada di dekat-dekat kita. Yang jauh malah terasa lebih dekat. Yang dekat, keluarga, tetangga kanan kiri, kok ya rasanya malah jauh, jarang kita sapa, sudah abai diajak tertawa bersama.
Continue reading

Persepsi Hati dan Pikiran

Ada kesengsaraan yang justru mendatangkan kebahagiaan. Ada serba kelebihan yang malah mendatangkan kegelisahan. Mungkin terlihat konyol. Namun, dunia ini memang tampil dengan begitu banyak wajah ketidakmungkinan, juga tentang ketidak masuk akalan.

Sengsara tetapi tetap ceria tentu ini luar biasa. Miskin tapi masih semangat berbuat ini itu membuat saya tak henti geleng-geleng kepala. Ada bung Pepeng, yang dengan sakit kronisnya, tetap mampu membuat kita tertawa dan terinspirasi. Ada suster apung, yang dengan gaji dan fasilitas seadanya, tetap mau merawat begitu banyak orang. Hanya berbekal perahu motor seadanya, ia merenda amalnya.

Continue reading

Hikmah dari Pedagang

Beliau sama sekali belum pernah mengenal saya sebelumnya. Saya pun demikian. Namun, interaksi singkat dengan beliau, telah memberikan kesan yang mendalam bagi saya. Beliau pedagang kelontong. Sudah lebih dari dua puluh tahun beliau berjualan. Tokonya adalah rumahnya. Rumahnya adalah tokonya. Dari hasil usahanya itu, dua anaknya kuliah di UI, seorang lagi di ITS. Sangat mengesankan bagi keluarga yang tinggal di pedesaan.
Continue reading

Lebih Jauh, Lebih Baru, Lebih Banyak

Suatu ketika Rasulullah hadir dalam pemakaman salah seorang sahabatnya. Di tengah kunjungannya, beliau bertanya kepada istri dari sahabat yang meninggal tersebut. “Adakah wasiat yang ditinggalkan suamimu?”. Sang istri ini menjawab, “Ya Rasul, sebelum meninggal, suamiku mengucapkan kata-kata aneh, yang aku sendiri tidak tahu apa maknanya. Suamiku berkata ‘andai lebih jauh’, ‘andai lebih baru’, ‘andai lebih banyak’ “.

Continue reading

Cinta Salah Arah

Ternyata tak semua cinta selalu punya efek yang baik di kemudian hari. Salah satu contohnya adalah saat orang tua memaknai cinta sebagai pemberian segala materi terbaik kepada anaknya. Pada saat itu, pemberian bisa dianggap sebagai pilihan yang paling baik.

Tapi di sisi lain, kemudahan dan pemenuhan fasilitas ini tak selamanya memberikan kebaikan. Ada banyak kisah, anak-anak golongan ini malah terjerembab dalam penggunaan materi yang keliru. Karena pemenuhan kebutuhan fisik ini seringnya tak diiringi dengan pemenuhan kebutuhan jiwanya.
Continue reading

Kalau Cinta, Ya Harus Memiliki

Logika saya masih tak nyambung dengan ungkapan “cinta tak harus memiliki”. Kalau seseorang tidak memiliki apa yang dianggap dicintainya, artinya hanya ada dua kemungkinan.

Kemungkinan pertama, ia tak sungguh-sungguh mencintainya. Bagaimana mungkin mencintai tanpa memiliki? Bagaimana mungkin kita cinta dengan Tuhan kita, tanpa merasa memiliki ajarannya? Memiliki dalam artian punya kemauan sungguh-sungguh untuk menjalankan apa yang Tuhan perintahkan.
Continue reading

Hakekatnya, Niat

Kalau kau rajin belajar sungguh-sungguh karena ingin memperoleh nilai yang bagus, bisa masuk ke sekolah atau kampus unggulan, kemungkinan besar niatmu akan terwujud. Namun hanya itu. Tak lebih.

Kalau kau di kampus bersemangat kuliah, mengerjakan tugas, mengikuti organisasi maupun panitia supaya dapat beasiswa atau dapat pekerjaan bergengsi selepas kau lulus, kemungkinan besar niatmu akan terwujud. Namun hanya itu. Tak lebih.
Continue reading