Di sebuah tempat dan pada suatu waktu, saya diajak ngobrol sama seseorang.
Teman: menurut njenengan, babi itu haram atau nggak?
Di sebuah tempat dan pada suatu waktu, saya diajak ngobrol sama seseorang.
Teman: menurut njenengan, babi itu haram atau nggak?
Tadi malam, saya mendapat beberapa sms. “Alhamdulillah mas, saya diterima di kampus….”. “Mas, saya gagal di SNMPTN…”. Saya tak tahu pasti bagaimana rasa dari dua sms tadi. Yang pertama, bisa jadi euforia setelah lama berjuang, dengan isak, lelah, secara fisik maupun mental. Dia yakin bahwa Tuhan begitu baiknya. Meluluskan doa yang khusyuk dia panjatkan. Yang kedua, mungkin sedih, kecewa, karena merasa bahwa usahanya selama ini sia-sia. Dan Tuhan tak adil baginya. Ia hanya bisa termenung melihat teman-temannya gembira.
Berulang-ulang saya dengar, masa remaja itu masa yang paling menyenangkan. Penuh kenangan. Candaan. Celetukan. Juga kegilaan. Begitulah adanya. Kalau kamu belum sampai masa itu, bersabarlah. Kalau kamu sudah melaluinya, bersyukurlah. Tak semua orang bisa melaluinya. Saya tak punya dalih empiris untuk menguatkan pendapat di kalimat awal tadi. Tapi, percayalah, saya pernah melaluinya.
Banyak orang mempermasalahkan, betapa tidak enaknya ada perbedaan. Karena berbeda, maka kita bisa saling iri, gengsi, nge-gang, bermusuhan. Bukan hanya tentang sikap, tapi juga kata, pilihan pemilu, klub sepakbola, atau model sepatu dan rambut. Tak hanya antarteman, ekses berbeda ini sangat mungkin menjangkiti keluarga, saudara seayah atau seibu, atasan bawahan, atau siapapun juga.
orang kaya yang mengirimkan anaknya ke sekolah berlabel internasional, seperti menggarami lautan, tapi ia tak sadar telah melubangi kapalnya sendiri [Hanum Rais]
Namanya Hanum Salsabiela Rais. Saya baru mengenalnya lewat buku pertamanya, “Menapak Jejak Amien Rais”. Yap, betul. Hanum adalah putri Amien Rais. Lulusan Kedokteran Gigi UGM yang kini mengabdikan hidup sebagai jurnalis. Bukunya mungkin terkesan subjektif, karena menceritakan salah seorang tokoh besar yang juga merupakan ayahnya sendiri. Namun, di sinilah menariknya. Hanum menceritakan sisi lain seorang tokoh besar, dari perspektif yang kita tak akan pernah memperolehnya, karena kita bukan anaknya.
Kiye gawean pantun karo puisi saka postingan sing ana ning TCC,
Dan karya-karya liyane, bisa ditemoni ning forume wong tegal, www.tegalcyber.org ^_^
gaweane cah_nglangsa
Brebes tegal slawi
Teles klebes dilakoni
Brebes tegal slawi
Udan deres diparani
Brebes tegal slawi
Demi cinta ditelponi
Telpone mati lewat radio ya disalami..
Dua kata itu punya makna yang berbeda jika digabungkan dengan posisi yang berbeda pula. Namun, dua-duanya sama menariknya. “Merasa cukup” adalah suatu sifat yang saat ini dianggap inferior oleh kebanyakan orang. Karena dengan merasa cukup, kita akan disisihkan zaman. Dianggap sebagai orang yang tak punya ambisi dengan posisi. Tak memiliki keinginan untuk menjadi yang lebih baik pada masa depan. Karenanya, merasa cukup adalah sifat yang unik sekarang.
Sejak saya pindah ke rumah baru tiga tahun lalu, ada satu hal yang membuat saya senang. Sekarang di rumah saya ada halaman. Dan karena ibu senang dengan bunga dan tanaman maka di rumah jadi lebih semarak. Dari sekian tanaman yang ada di rumah, ada satu yang menarik perhatian saya. Pohon itu belimbing dan asem.
Dua pohon itu tak seperti tanaman lain yang didominasi oleh bunga. Namun, tanaman itu memberikan efek yang luar biasa, khususnya buat saya. Buah asem itu memang murah harganya. Pernah saya tanya ke ibu tentang harga sekilo asem, harganya tak lebih dari 2000. Paling mahal 8000.
dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan [YUNUS: 12]
Beramal karena manusia itu syirik, meninggalkan amal karena manusia itu riya’ (Fudhail bin ‘Iyadh)
Suatu waktu di suatu tempat, hiduplah seorang shaleh. Orang ini sangat dekat dengan Allah SWT. Di daerahnya, ada sebuah pohon besar yang disembah-sembah oleh orang sekitarnya. Mengetahui ada kesyirikan seperti ini, orang shaleh ini segera bergegas mengasah pedangnya untuk menghancurkan pohon tersebut. Di tengah perjalanannya, tiba-tiba ada sosok yang menghadang. Sosok ini tiba-tiba menyerang orang shaleh itu. Tanpa kesulitan, sosok ini tersungkur. Sebelum dipenggal, sosok ini lalu menawarkan kepada orang shaleh itu untuk menggagalkan rencananya. Dia mengiming-imingi akan memberikan kepingan emas setiap ia bangun tidur. Orang shaleh ini berpikir sejenak, lalu mengiyakan.