Sebuah Pelajaran Berharga

Kemaren belajar tentang satu hal yang sangat penting dari beberapa orang dan juga peristiwa. Belajar bersabar. Tentang segala hal yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Saat kita dihadapkan pada situasi terburuk. Saat segala sesuatu di depan nampak begitu gelap. Dan, benarlah kata Rasul. Bahwa sabar itu ada pada hantaman pertama. Karena memang begitu berat untuk bersabar pada kondisi itu. Saat emosi lebih dominan dari nurani. Dan beruntunglah mereka yang bisa melakukannya, yang mampu bersabar dan beristiqomah dengan kesabarannya.

Syukur ibarat aspek ekspansif dalam garis kehidupan dan sabar adalah aspek defensifnya (salah satu tulisanku)

Idul Adha di Sini

Bismillahirramanirrahim…

Di tengah kesibukan ngerjain beraneka tugas, saya sempetin nulis cerita pengalaman Idul Adha di sini. Sekalian buat peregangan tangan yang udah lama gak produktif nulis :). Alhamdulillah, kayaknya gak ada henti-hentinya saya bersyukur bahwa Allah ngasih kesempatan buat berada di Saudi ini. Diawali dengan diterimanya saya berjuang di kampus sini. Kemudian dikasih kesempatan buat umroh di ramadhan yang lalu. Dan akhirnya, kesempatan beribadah haji di tahun ini. Alhamdulillah wa syukurillah… Dan itu semua juga berkat bantuan temen-temen kampus dari Saudi yang bekerja keras memfasilitasi kita buat ibadah haji. Thanks guys!! πŸ™‚

Continue reading

KAUST dan Kebangkitan Ilmuwan Muslim

Tepat pada tanggal 23 September 2009, telah diresmikan sebuah universitas baru berskala internasional di Arab Saudi yang dihadiri oleh puluhan perwakilan negara dari berbagai penjuru dunia. Universitas megah ini bernama King Abdullah University of Science and Technology (KAUST). Terletak di dekat laut Merah, kota Thuwal, 80 km di sebelah utara kota Jeddah, KAUST menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dan memiliki laboratorium berkelas dunia di lahan seluas 36 km2. Di kompleks kampus juga tersedia berbagai fasilitas lainnya seperti apartemen dosen dan mahasiswa, tempat hiburan, restoran, kafe, supermarket, pom bensin serta fasilitas olahraga yang lengkap.

Kampus ini adalah realisasi terhadap visi jangka panjang raja Abdullah, raja Arab Saudi saat ini. Beliau ingin menciptakan β€œBaitul Hikmah” (House of Wisdom) baru. Baitul Hikmah adalah sebuah tempat yang berperan sebagai perpustakaan, pusat riset, dan biro penerjemah di Baghdad pada abad 9 s.d. 13 Hijriah. Dibangun atas kerja keras Harun Ar Rasyid dan Al Ma’mun, tempat itu telah menjadi motor kebangkitan intelektual muslim dan memberikan kontribusi yang sangat besar dalam dunia kedokteran, ilmu pelayaran, pertanian, dan astronomi.

Continue reading

Mencari Sebuah Masjid (karya Taufiq Ismail)

Aku diberitahu tentang sebuah masjid
Yang tiang-tiangnya pepohonan di hutan
Fondasinya batu karang dan pualam pilihan
Atapnya menjulang tempat tersangkutnya awan
Dan kubahnya tembus pandang, berkilauan
Digosok topan kutub utara dan selatan

Aku rindu dan mengembara mencarinya

Aku diberi tahu tentang sepenuh dindingnya yang transparan
Dihiasi dengan ukiran kaligrafi Quran
Dengan warna platina dan keemasan
Berbentuk daun-daunan sangat beraturan
Serta sarang lebah demikian geometriknya
Ranting dan tunas jalin berjalin
Bergaris-garis gambar putaran angin

Aku rindu dan mengembara mencarinya

Continue reading

Awal di Tanah yang Diberkahi

Tulisan ini, insya Allah, mengawali tulisan-tulisan berikutnya yang akan menceritakan pernak-pernik harian saya di tanah yang diberkahi, Arab Saudi. Dan di bagian ini, saya pengen cerita tentang proses nyampenya saya di sini (Jeddah) dan aktivitas awal sebelum kuliah. Tiket udah dipesen untuk pemberangkatan dari Soekarno Hatta, Jakarta. Secara, gak ada bandara di Tegal!! Masa harus nglemparin tali ke atas biar dikerek ama pesawat??? hahaha… Karena itulah, akhirnya diputuskan untuk transit di Jakarta, sehari sebelum keberangkatan.
Oh ya, sebelumnya harus berjuang keras buat mberesin bawaan. Info pertama yang didapet, maksimal bawaan yang masuk bagasi, 20 kilo. Wah, sampe dibela-belain tuh nimbang di tukang jual besi tua, hahaha… Ternyata beratnya 23,5 kilo. Waduh… berabe nih!!! Mana kelebihan per kilonya kena bayar 48 dolar!! Tapi ternyata, info terakhir yang didapet, maksimal beratnya jadi 30 kilo. Duh, senengnya!!! Gak jadi nombok cing, hahaha…
Akhirnya, masa itu pun tiba, untuk meninggalkan Indonesia, tanah dan orang-orang yang dicinta. Ada isak haru di bandara, tapi ada sorot harapan yang mengiringinya. Terasa sesak, namun terselip lega karena gembira melihat binar bangga di mata mereka. Berangkat bareng 5 orang temen Indonesia yang lain. Transit di Abu Dhabi. Gile, lama bener di sini. Lebih dari 6 jam!! Mana dingin banged!! Tuh bandara apa kulkas ya??? hehehe… Bener-bener manteb dah. Dibela-belain mondar-mandir, tetep gak ngaruh ke badan. Yang ada malah nambah linu aja, hahaha…
Alhamdulillah sampe Jeddah jam 4 pagi sebelum subuh. Udah ditungguin sama orang KAUST. Abis pengecekan visa yang lama, akhirnya kita keluar bandara. Ada jemputan mobil yang mau nganter kita ke Intercontinental Hotel. Ya Allah, pas ngeliat papan suhu, ternyata suhu Jeddah abis subuh udah 31. Mantabs!! Gimana siangnya tuh!! hahah.. Nyampe hotel langsung beberes bawaan bentar, dan tidur pulas. Capek banget belasan jam perjalanan. Dan ternyata tidur bikin saya melewatkan sesi poto buat syarat tes kesehatan, hahaha… dodol nih…
Hari-hari di sini kadang menyenangkan, kadang membosankan. Seneng karena banyak ketemu teman dari banyak negara, jalan-jalan, ngobrol-ngobrol, sampe maen ke kampus KAUST. Kadang bosen soalnya kegiatannya banyak di kamar dan “internet connection unavailable”. Hahaha,,, Oh ya, pas maen ke kampus KAUST, manteb banget dah!! Kampusnya luas bener. Teknologinya canggih-canggih. Kelasnya keren. Subhanallah dah. Ya, emang masih banyak bangunan yang belum jadi sih. Tapi, it’s ok lah. Namanya aja kampus baru. Buat yang pengen liat detailnya, silakan maen ke album poto di fesbuk, nggih ^_^
Dan Kamis ini dikasih kesempatan buat buka bareng di Konjen RI Jeddah. Seneng banget. Dijemput ama Pak Abdullah pake mobil. Soalnya, total kita ada 16 orang dan kita juga gak tau jalan ke Konjen, jadi ya mesti dijemput, hehe. Kirain bisa makan kolak di situ, eh ternyata bukanya pake korma ama pastel, hiks. Padahal, dah ngebet pengen kolak, hehehe… Luar biasa gedungnya. Orang-orangnya juga. Ramah ala Indonesia. Sempat ngobrol ama Pak Lama, kepala sekolah Indonesia yang ada di Jeddah. Asik dah. Banyak dapet info sama wejangan juga. Sayang gak lama di situ. Abis makan malam, langsung ke hotel. Padahal pengen ngikut tarawih di situ, hiks…
Oh ya, mulai Sabtu ini, mahasiswa KAUST udah mulai program orientasi sebelum ngampus 5 September. Mohon doanya nggih ^_^. Insya Allah, kisah orientasi bakal ditulis. Pantengin aja, bro/sist ^_^….

Tulisan ini, insya Allah, mengawali tulisan-tulisan berikutnya yang akan menceritakan pernak-pernik harian saya di tanah yang diberkahi, Arab Saudi. Dan di bagian ini, saya pengen cerita tentang proses nyampenya saya di sini (Jeddah) dan aktivitas awal sebelum kuliah. Tiket udah dipesen untuk pemberangkatan dari Soekarno Hatta, Jakarta. Secara, gak ada bandara di Tegal!! Masa harus nglemparin tali ke atas biar dikerek ama pesawat??? hahaha… Karena itulah, akhirnya diputuskan untuk transit di Jakarta, sehari sebelum keberangkatan.

Oh ya, sebelumnya harus berjuang keras buat mberesin bawaan. Info pertama yang didapet, maksimal bawaan yang masuk bagasi, 20 kilo. Wah, sampe dibela-belain tuh nimbang di tukang jual besi tua, hahaha… Ternyata beratnya 23,5 kilo. Waduh… berabe nih!!! Mana kelebihan per kilonya kena bayar 48 dolar!! Tapi ternyata, info terakhir yang didapet, maksimal beratnya jadi 30 kilo. Duh, senengnya!!! Gak jadi nombok cing, hahaha…

Continue reading

Risalah Paris (Part IV-Final)

Setiba di Sorbonne, kami langsung mencari “altar suci”, ungkapan yang sering dipakai Andrea Hirata di bukunya. Maka, berjalanlah kami menyusuri trotoar St Michel Boulevard. Sambil melihat peta, kami tengok kanan kiri, barangkali sudah tampak “altar suci”-nya. Setelah kurang lebih 700an meter kami berjalan, di sebelah kiri kami berdiri dengan gagahnya sebuah gereja besar. Dan itulah “altar suci”!! Sebenarnya niat kami mau menjelajah di sekitarnya, tapi apa daya perut nampaknya sudah nggak bisa berkompromi. Karena itu, kami cuma mengambil gambar di sekitarnya. Eh, ternyata ada sosok patung Auguste Comte di sekitar Sorbonne. Kalo nggak salah, beliau ini tokoh dalam sosiologi ya? Udah lupa soalnya, hehe. Mengingat kondisi perut yang sudah mencapai klimaks laparnya, segeralah mencari tempat makan terdekat. Setelah makan, ternyata jam sudah menunjukkan pukul 5an. Sudah sore. Akhirnya, terpaksa kami batalkan rencana singgah di kampus Sorbonne. Kami harus segera ke Notredame!!

Continue reading

Risalah Paris (part III)

Melanjutkan cerita di bagian sebelumnya, kami sudah sampai di stasiun metro. Cukup lengang saat itu, mungkin karena sudah malam, hampir jam 2. Setelah membeli tiket di mesin jual otomatis, kami langsung masuk ke peron. Baru duduk, tiba-tiba ada teriakan dari peron seberang. “Closed”, katanya. Hah?? Waduh, gimana nih?? Mana cuma tau pake kereta doang cara nyampenya. Setelah keluar, akhirnya terpikir untuk memakai taksi. Terpaksa kita jalan ke depan eiffel lagi, karena taksinya banyak ngumpul di situ. Udah coba nyetop di jalan, tapi taksinya gak mau pada minggir. Di depan eiffel, kami dapet nyetop satu taksi. Wah, ribet juga. Sopirnya gak bisa bahasa inggris ^_^ Hmm, akhirnya kami tunjukin aja lokasinya pake peta. Dan ternyata, tuh sopir gak mau. Gak tau deh alasannya. Tapi mungkin kejauhan kali ya. Di ujung selatan soalnya. Dan eiffel ada di hampir ujung barat.

Continue reading

Risalah Paris (part II)

Setelah beristirahat sejenak di hotel, kami putuskan untuk segera melancong. Hehehe. Soalnya, besok Minggu sudah dimulai conference-nya. Tujuan awal adalah menara Eiffel. Setelah membaca peta wisata yang diambil dari bandara, lumayan jauh jaraknya dari metro terdekat dari hotel. Ada 10 stasiun metro yang harus dilewati. Stasiun Bir Hakiem, tujuannya. Kami berangkat selepas shalat Dzuhur. Dan waktu Dzuhur di Paris adalah 13.52. Lagi summer soalnya. Ashar malah jam 6 sorean. Hehehe…

Continue reading

Risalah Paris (part I)

Tulisan ini adalah bagian pertama dari empat rangkaian tulisan tentang pengalaman, kesan, dan segala sesuatu yang mengiringi proses perjalanan saya ke Paris (26 Juni-3 Juli). Tujuan keberangkatan ke Paris ini adalah untuk menghadiri suatu conference tentang Knowledge Discovery yang diselenggarakan oleh ACM (Association Computing Machinery). Mengingat adanya niat, tetapi tiadanya biaya, akhirnya kami mengajukan proposal ke KAUST (kampus S2 kami) supaya mau menanggung segala kebutuhan kami menuju ke sana. Proposal diajukan pada akhir April. Dan alhamdulillah, pada pertengahan Mei mendapatkan jawaban lewat email bahwa proposal kami di-approve. Kemudian bersegeralah kami menyiapkan segala sesuatunya, mulai dari pendaftaran, pencarian hotel, visa, asuransi dan segala hal lainnya. Tantangan pertama datang dari prosesi pembayaran untuk registrasi, hotel dan asuransi. Semuanya harus dibayarkan melalui kartu kredit. Alamaaak… mana punya kita kartu kredit. Tabungan aja seada-adanya πŸ™‚ Alhamdulillah, Allah membantu dengan mengetuk hati salah seorang keluarga untuk rela meminjamkan kartu kreditnya kami gunakan.
Tantangan tak berhenti di situ. Tantangan berikutnya adalah adanya jadwal acara ke Singapore pada awal Juni. Ini membuat kami tidak bisa segera meng-apply visa, karena passpornya dipakai dulu buat ke Singapore. Dan ketika akan mengurus visa, ternyata antrian di Jakarta sudah penuh. Kami baru bisa memasukkan aplikasi pada tanggal 17. Padahal, layanan visa adalah 10 hari kerja dan tiket pesawat sudah terpesan untuk tanggal 26. Alhamdulillah, Allah kasih bantuan lagi. Ternyata, visa bisa diurus dari perwakilan Perancis yang ada di Surabaya. Dan di sana memerlukan waktu 14 hari. Aplikasi pun masuk ke perwakilan tersebut pada tanggal 8 Juni.
Tak terasa almanak masehi sudah menunjuk tanggal 22 dan belum ada kabar tentang keluarnya visa. Sempat berkecil hati (tepatnya berputus asa). Mungkin memang belum waktunya untuk bisa menjejakkan kaki di tanah Eropa. Akhirnya dicobalah usaha terakhir, mengirimkan email kepada panitia conference untuk mengontak kedutaan Perancis di Jakarta, sekedar “mengintervensi” visa kami. Mudah-mudahan berhasil. Dan, alhamdulillah, Allah bener-bener ngasih rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka. Di hari-hari menjelang keberangkatan, ada balasan email dari panitia yang mengabarkan bahwa visa kami sudah beres dan sedang dalam proses pengiriman.
Akhirnya, Soekarno Hatta 26 Juni pukul 18.30, kami meninggalkan Indonesia menuju Malaysia. Pesawatnya transit dulu di Kuala Lumpur sebelum menuju Paris. Pukul 21.30 waktu Malaysia, kami sudah sampai. Ketika membaca tiket, kami harus segera menuju gate C15 untuk melanjutkan perjalanan. Hampir 2 jam lamanya menunggu. Dan ketika boarding, petugas yang memeriksa tiket mengatakan bahwa kami salah gate. Seharusnya kami menuju ke gate G8. What????? Pucat pasilah kami. Gimana nggak?? Wong jelas2 di tiket tuh tertulis bahwa gate ke Paris adalah C15. Akhirnya bapak petugas menelepon petugas G8 dan mengatakan kepada kami untuk segera menuju ke gate tersebut. Tanpa berpikir panjang, langsung lah kami berlari. Alhamdulillah, pas shuttle bandara sedang akan berangkat. Turun dari shuttle, langsung lari lagi. Pokoknya lari, sekencang-kencangnya. Di boarding G8, kami dipelototin sama petugas bandara. Hahahaa. Bodo amat lah. Yang penting kekejar nih pesawat. Masuk ke pesawat, masa bodo juga diliatin orang lain. Ternyata nih pesawat cuma nungguin kami buat berangkat. Hwehehe… Keren juga
Efek dari berlarian baru dirasakan saat perjalanan. Kepala ama badan masuk angin gak jelas. Mungkin karena perpindahan suhu yang ekstrim dari panas berkeringat ke dinginnya udara AC. Duduk pun rasanya gak karuan. Dibawa tidur ternyata nggak menyelesaikan masalah. Wah, pokoknya bener-bener nggak karuan!! Setelah turun dari pesawat, 11 jam perjalanan, barulah badan ini agak mendingan. Kebantu juga ama suhu bandara yang hangat (untuk tidak dibilang panas). Jam 6.10 kita sampai di Charles de Gaulle, Paris. Bonjour!!! πŸ™‚ Bandaranya tak terlalu istimewa. Di bawah ekspektasi kita lah. Kayaknya mendingan bandara Kuala Lumpur atau Changi. Tapi, tak apalah. Ini Paris bo!!! πŸ˜€
Setelah diperiksa passpor dan visa, kami segera mencari bagian informasi, untuk menanyakan cara bagaimana kami bisa sampai ke hotel. Kami tidak berniat memakai taksi. Selain harganya lebih mahal, naik taksi malah tidak menikmati perjalanan. Kami sepakat menggunakan metro, sejenis KRL di Jakarta. Tiketnya lumayan mahal, 8,4 euro (sekitar 120 ribu). Perjalanan menuju stasiun metro terdekat hotel kami sekitar 1 jam karena harus berganti kereta. Keluar dari stasiun, kami segera mencari lokasi hotel. Kami bertanya kepada petugas stasiun dengan bahasa inggris. Eh, kok malah dijawabnya pake bahasa Perancis. Waduh… Puyeng juga nih. Mana ngerti?? Y udah lah, ambil nekat aja. Berbekal peta kami coba cari sendiri. Di persimpangan sempat bingung. Ngeliat ada bule lewat, coba nanya lagi. Alhamdulillah, bule yang ini bisa bahasa inggris. Kita ikutin deh apa yang dikatakan bule itu. Alhamdulillah, 30 menit kemudian kita sudah sampai di depan hotel. Mungkin kalo di Indonesia, lebih tepatnya disebut losmen. Ukurannya relatif kecil soalnya.
Oh ya, sempat ketemu mahasiswa S3 Indonesia di metro bandara. Beliau ini S1 Paramadina. Baru sampai ke Paris bareng istrinya. Baru menikah beberapa waktu yang lalu, katanya. Ambil geopolitik di kampus di Paris. Lupa nama kampusnya. Sempat cerita macam-macam. Dan cukup memberikan gambaran awal tentang Paris. Bahkan, sempat dikasih saran buat memperpanjang tinggal di Paris. Hwahaha, sayang gak mungkin. Masih banyak urusan yang harus diselesaikan di Indonesia. Okeh, bagian pertama cukup sekian. Kita akan berlanjut di bagian kedua, nanti πŸ™‚

Tulisan ini adalah bagian pertama dari empat rangkaian tulisan tentang pengalaman, kesan, dan segala sesuatu yang mengiringi proses perjalanan saya ke Paris (26 Juni-3 Juli). Tujuan keberangkatan ke Paris ini adalah untuk menghadiri suatu conference tentang Knowledge Discovery yang diselenggarakan oleh ACM (Association Computing Machinery). Mengingat adanya niat, tetapi tiadanya biaya, akhirnya kami mengajukan proposal ke KAUST (kampus S2 kami) supaya mau menanggung segala kebutuhan kami menuju ke sana. Proposal diajukan pada akhir April. Dan alhamdulillah, pada pertengahan Mei mendapatkan jawaban lewat email bahwa proposal kami di-approve. Kemudian bersegeralah kami menyiapkan segala sesuatunya, mulai dari pendaftaran, pencarian hotel, visa, asuransi dan segala hal lainnya. Tantangan pertama datang dari prosesi pembayaran untuk registrasi, hotel dan asuransi. Semuanya harus dibayarkan melalui kartu kredit. Alamaaak… mana punya kita kartu kredit. Tabungan aja seada-adanya πŸ™‚ Alhamdulillah, Allah membantu dengan mengetuk hati salah seorang keluarga untuk rela meminjamkan kartu kreditnya kami gunakan.

Continue reading

Bait-bait Hujan

sore ini hujan singgah di halamanku
datang dengan sejumput pesan
bukan tentang kerinduan darimu
karena lama terpisahnya kita
tapi
tentang tanya yang belum terjawab
kapankah tunainya janji pembaharu itu
yang dulu lantang kupekikkan

juga bukan tentang seonggok cinta
antara dua insan
karena cinta yang ia tagih
adalah bulir-bulir
penantian tentang tekad
bahwa hidup adalah memberi sebanyak-banyaknya

juga keliru ketika kau menganggapnya
sebagai rasa sayang
toh, hujan ini ternyata begitu menggelora
meski turun dengan lirihnya

dan hujan telah telak menohokku
dalam
menghujam
baktiku belum teruji
tekadku masih sebatas nyali
hidupku ternyata miskin arti

-sore hujan, awal juni 2009-