Buat yang Masuk UI

Ada titipan info dari rekan PPSDMS yang jadi anggota Majelis Wali Amanat UI:

“bagi teman2 yg sudah diterima masuk UI melalui jalur SIMAK dan PPKB, jangan khawatir dengan biaya yang dituliskan di web UI. teman2 hanya akan diminta membayar sesuai kemampuan. sehingga angka2 yg ada pada situs adalah angka2 untuk mereka yg penghasilan orang tuanya diatas 77juta per bulan.
hingga hari kmrn, jumlah peserta lulus SIMAK UI yg sudah menyerahkan berkas baru sekitar 50%. sementara berkas sudah harus disetor teakhir pada tgl17april2009. hal ini diantaranya disebabkan informasi pada web UI yg sgt tidak informatif sehingga mengesankan masuk UI hrs membayar UP sebesar 5-25 juta dan BOP per semester 5-7,5juta. padahal sesungguhnya peserta didik hanya diwajibkan membayar sesuai kemampuannya.
Jangan nyerah gitu aja, yah.. ^_^” (Dimas NA, MWA UM UI).

-mohon disebarkan-

Dua Buku

Jarang banget saya membaca novel. Apalagi yang berbau-bau melankolis. Alasan pertama, mungkin karena saya laki-laki. Jadi, hal-hal semacam itu, menurut saya pribadi, terlalu cengeng atau terlalu lembek. Alasan kedua, bacaan novel jarang dipakai buat referensi. Berbeda dengan buku-buku umum yang bisa jadi acuan buat karya tulis atau pas bikin tulisan-tulisan ringan. Alasan ketiga, pengalaman saya baca beberapa buku novel, sangat cepat dibaca. Gak butuh waktu berhari-hari bisa selesai. Dan selesai dibaca, buku itu tergeletak begitu saja. Sayang banget kan? Udah beli mahal-mahal, cuma digituin doang 🙂

Tapi, ada sentuhan aneh ketika saya membaca dua novel berbeda karya Tere Liye, “Moga Bunda Disayang Allah” dan “Bidadari-Bidadari Surga”. Dua novel ini berhasil menyihir, atau lebih tepatnya membobol, kerasnya hati saya. Inilah novel yang bisa kembali menyadarkan saya tentang arti hidup, kenyataan, mimpi, dan perjuangan. Empat kata yang selama ini menjadi ruh dalam setiap langkah. Kata-kata yang saya yakini, bahwa untuk itulah Allah menjadikan saya ada di bumi ini.

Cinta Itu Memberi, Hidup Itu Berkontribusi

Dua klausa itu, entah kenapa, tiba2 terngiang-ngiang di kepala saya. Klausa pertama, saya temukan di rubrik terakhir majalah Tarbawi, goresan tangan Anis Matta. Bener-bener ngerasa tertampar dan termotivasi. Klausa kedua, diperoleh dari pengalaman tinggal 4 tahun di kampus dan 2 tahun di PPSDMS. Ini lebih ngresep karena dari pengalaman nyata. Pengalaman organisasi. Pengalaman kuliah. Dan juga pengalaman interaksi.

Berarti ketika kita menegasikan dua klausa itu, menjadi “mengambil berarti tidak cinta, mandeg berarti sudah mati”. Wah, saya (kita) ada di posisi mana nih ya? Hmmm…

Alhamdulillah…

Udah lama sih. Tapi daripada tidak sama sekali, kan lebih baik terlambat :). Alhamdulillah, Allah telah memudahkan jalan saya untuk melanjutkan sekolah lagi di KAUST. Pengumumannya diperoleh dari lulusnya nilai IBT TOEFL yang saya ambil. Sekitar awal Februari lalu lah. Tapi, baru keinget untuk posting di sini sekarang. 🙂

Saya mengucapkan terima kasih banyak atas dukungan doa teman2 yang memudahkan Allah membukakan banyak pintu rahmat-Nya. Mohon doanya pula supaya Allah melancarkan urusan saya sebelum keberangkatan, saat di sana, dan ketika pulang dari sana. Mudah-mudahan ilmu yang diperoleh bermanfaat buat umat ini seperti apa yang sudah kami ikrarkan. Aamiin…

Perjalanan Cinta (part II)

Alhamdulillah, akhirnya setelah berjuang mengajukan proposal ke sana sini, ada beberapa pihak yang menyanggupi untuk mendanai kelanjutan cerita sebelumnya, khususnya Refi yang sudah memesan isi cerita untuk bagian kedua ini. Hwehehe…

Kisah di bagian ini akan dimulai dari tempat tinggal Refi yang kami singgahi selama kami di Lampung. Setelah menghabiskan hidangan yang disuguhkan, kami ngobrol ngalor ngidul sambil nunggu giliran mandi. Nggak terasa sudah masuk waktu Dzuhur. Kami bareng2 sholat di masjid depan rumah Refi. Karena kami musafir, kami sepakat untuk men-jama’ sholat Dzuhur dan Ashar. Nah, sepulang dari masjid, kami mengobrol dengan bapaknya Refi. Beliau sempat menanyakan mengapa kami tadi sholat dua kali di masjid. Kami menjawab saja bahwa kami melakukan sholat jama’ Dzuhur dan Ashar. Beliau terlihat lega dengan jawaban kami. Beliau khawatir kalo kami termasuk golongan2 aneh yang sering merebak belakangan ini.

Continue reading

Perjalanan Cinta (part I)

Sesuai yang saya duga, pas baca judulnya, pasti pikirannya sudah melayang-layang tak tentu arah. (hahaha, sotoy mode: on). Judul tulisan ini mungkin cuma sedikit kaitannya sama isinya. Ntar dilihat aja langsung di isinya. Tapi, tanpa mengesampingkan materi pelajaran bahasa Indonesia tentang pentingnya penentuan judul untuk sebuah tulisan, judul di atas adalah upaya provokatif, hehehe. Ini baru bagian pertama. Yah, sekitar setengah perjalanan lah. Nah, setengahnya lagi ada di bagian II. Biar seru gitu… hehehe…

Jadi sebenarnya di tulisan ini, saya mau menceritakan perjalanan tiga hari ke Lampung dari hari Jumat-Ahad, tanggal 6-8 Agustus. Ini bukan sekedar melancong. Ini juga bukan sekedar refreshing atau sebangsanya. Tapi, perjalanan ini untuk menghadiri resepsi pernikahan seorang teman seasrama di PPSDMS. Zhajang namanya. Alumni FEUI yang ngakunya bekerja sebagai Asisten Wakil Direktur di Danamon Syariah Pusat. Hehehe, tau tuh bener nggak. Nah, si beliau ini berhasil menggaet Ambar, anak Lampung yang sudah lulus dari FIK UI dan sekarang lagi menjalani masa profesi.

Continue reading

Artikel Oktober 08

Ikhtilat Virtual

Tanpa bermaksud mensimplifikasikan, ikhtilat umumnya dipersepsikan dengan berkumpulnya laki-laki dan perempuan dalam satu tempat. Konteks ikhtilat yang digunakan di sini adalah dalam perspektif Islam. Tata bahasa tersebut digunakan untuk mendefinisikan salah satu dari sekian banyaknya aturan Islam tentang bab pergaulan antarlawan jenis.

Dalam Islam pergaulan antara laki-laki dan perempuan memang sangat diperhatikan. Aspek preventiflah yang menjadi landasan kuat perhatian tersebut. Telah jelas disebutkan di dalam kitab sucinya bahwa Islam melarang pemeluknya mendekati zina. Dan dari sekian banyak pintu masuk ke zina, pintu utamanya bernama pergaulan.

Continue reading

Short Story from My Trip, In Singapore

Saya mau sharing-sharing pengalaman saat melancong ke Singapura nih selama kurang lebih 4 hari, 7-10 November 2008. Sebenernya tujuan keberangkatan saya ke sana ada dua. Pertama adalah buat wawancara beasiswa KAUST. Kedua adalah menghadiri recognition event para penerima beasiswa KAUST dari asia pasifik. Undangan ke Singapuranya sih udah dari lama, sekitar awal Oktober. Tapi, kepastian berangkatnya baru awal-awal November. Nggak tau kenapa, tapi konfirmasi e-ticketnya baru awal November gitu.

Saya berangkat ke bandara hari jumat jam 3 siang bareng temen dari Fasilkom UI. Sampe bandara Soekarno Hatta sekitar jam 5 sore. Macet banget jalan ke bandaranya. Kami turun di terminal 2, di pintu D2. Sudah menunggu di sana 6 orang teman. Kami sholat ashar dulu. Sebelum masuk boarding, penyakit narsisnya pada muncul. Biasa, foto2 gak jelas di bandara. Hehehe…

Continue reading

Artikel September 08

Mencari Pahlawan Muda Indonesia


Krisis bangsa saat ini memang telah menggurita. Krisis yang diawali dari terpaan badai ekonomi 10 tahun silam. Lantas disusul dengan tersingkapnya krisis politik, budaya, sosial, dan moral. Kita seharusnya tidak terbenam dalam keterpurukan dengan senantiasa mengutuk keberadaan permasalahan bangsa seperti yang terjadi saat ini. Krisis adalah takdir semua bangsa, sebagaimana perjalanan hidup manusia, adakalanya berada dalam kejayaan, dan suatu waktu ia terjatuh dalam keterpurukan.

Hal yang seharusnya kita khawatirkan adalah belum lahirnya sosok-sosok pahlawan dari berbagai krisis multidimensi itu. Krisis identitas bangsa ini 80 tahun silam jauh lebih berat. Namun, generasi saat itu berhasil mengilhami solusi identitas tersebut dengan lahirnya Sumpah Pemuda. Sebuah pernyataan kesepakatan yang menyingkirkan berbagai perbedaan dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa. Atau kita dapat merefleksikan diri pada momentum 10 November di Surabaya, saat fragmen semangat dan keberanian tersinergi dalam perjuangan mengangkat senjata.

Continue reading

Punctuation is Powerfull

An English professor wrote the words:

“A woman without her man is nothing” on the chalkboard and asked his students to punctuate it correctly.

All of the males in the class wrote:
“A woman, without her man, is nothing.”

All the females in the class wrote:
“A woman: without her, man is nothing.”

Therefore “Punctuation is powerful”

dikutip dari sebuah milis