Akhirnya kebersamaan kita di asrama itu berakhir sudah. Waktulah yang akhirnya membentangkan kita dalam jarak. Tidak ada lagi tawa, canda, teriakan, ledekan yang mewarnai derap hari kita. Aku masih ingat saat kita berkumpul bersama di depan TV. Menertawakan tingkah pola tokoh-tokoh politik yang sedang bersilat lidah. Atau terbahak-bahak melihat film lucu, bahkan sekedar extravaganza di tengah-tengah kesibukan kuliah, organisasi, dan berbagai aktivitas lainnya.
Saat awal kita masuk, kita bukan siapa-siapa. Masing-masing kita membawa ego dan identitas masing-masing. Namun kini, kita adalah satu keluarga. Berada dalam bendera PPSDMS Angkatan III Regional I Jakarta. Telah kita lalui bersama manis dan pahitnya kebersamaan itu. Berdiskusi di tengah keletihan. Entah hanya sekedar mengeksplorasi informasi, mengadu argumentasi, hingga mencari solusi.
Entah kenapa, ketika meninggalkan asrama dan berada di tempat kos baru, aku merindukan kembali masa-masa itu. Saat hampir setiap jam 8 malam kita setia menunggu di aula atau ruang rapat eksekutif, menanti datangnya pembicara yang telah dijadwalkan. Saat di Sabtu sore berbarengan teriak sambil menggerakkan seluruh raga kita dalam latihan taekwondo. Saat tiap Senin pagi, kita bergegas saling membangunkan satu sama lain supaya tidak ada yang terlambat apel pekan itu. Saat … Ah, terlalu banyak kenangan itu kawan. Saat-saat yang sudah begitu membekas dalam di relung hatiku.
Sungguh, aku bersyukur kepada Allah yang telah memberiku kesempatan untuk bergabung di keluarga ini. Keluarga yang penuh dengan orang-orang sholih, berprestasi, dan berintegritas. Alhamdulillah… Terima kasih kawan. Terima kasih untuk semuanya. Dua tahun itu, sungguh…, sangat indah.
—persembahan untuk para ksatria, keluarga angkatan III—